Kurva Covid-19 Melandai, Pemerintah Percepat Vaksinasi, Termasuk Booster, Utamanya Bagi Lansia.

  • Bagikan

Kurva Covid-19 Melandai Jelang Ramadan, Pemerintah percepatan vaksinasi, termasuk booster, utamanya bagi lansia. Menjelang Idul Fitri 2022 diharapkan cakupan vaksinasi primer lengkap bisa mencapai 70 persen populasi.

Situasi pandemi terus bergerak membaik sepanjang sepekan, yakni 7–13 Februari 2022, melanjutkan tren yang terjadi empat minggu terakhir. Kasus aktif yang sempat menjulang sampai 570 ribu kasus pada pertengahan Februari 2022 telah menyusut ke angka 313 ribu. Kasus positif harian yang pernah menyentuh 63.900 telah melandai ke angka 9.629 kasus pada 14 Maret 2022. Positivity rate hari itu mulai merunduk ke level single digit yakni 8,04 persen.

Maka, pelonggaran atas pembatasan mobilitas akan terus berlanjut. Kebijakan bebas karantina dan layanan visa on arrival yang selama sepekan terakhir dilakukan di pintu gerbang Bandara Ngurah Rai, Bali, akan diteruskan dan diperluas. Sasaran berikutnya adalah Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang dan Bandara Juanda Surabaya, setelah situasinya memungkinkan.

Kondisi yang menggembirakan itu disampaikan oleh Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Wilayah Jawa-Bali Luhut Binsar Pandjaitan, dalam keterangan pers seusai hadir dalam rapat terbatas evaluasi PPKM, Senin, 14 Maret 2022. ‘’Segala kebijakan yang kami buat telah berjalan sesuai dengan koridornya sehingga memberikan hasil yang cukup baik,’’ ujar Menko bidang Kemaritiman dan Investasi (Marinves) itu lewat siaran live di kanal Youtube Sekretariat Presiden RI.

Secara khusus disebut oleh Luhut, kebijakan bebas karantina untuk pelaku perjalanan luar negeri (PPLN), berikut pemberian visa on arrival, terbukti tak memberikan dampak buruk atas situasi pandemi di Bali. Kebijakan bebas karantina di Bali itu, menurut Menko Marinves, berhasil menarik wisatawan asing (wisman) kembali datang. Dari jalur visa on arrival ada 449 orang datang sepekan terakhir.

‘’Positivity rate dari PPLN, yang datang dengan visa on arrival itu di bawah 1 persen,’’ kata Menko Luhut. Mereka pun bisa menjalani isolasi mandiri di hotel yang disediakan hingga negatif dari Covid-19, dan kemudian bebas beraktivitas di Bali. Setidaknya perlu waktu satu minggu lagi untuk evaluasi tambahan, sebelum kebijakan bebas karantina itu diberlakukan pula di Jakarta dan Surabaya.

Tentang kebijakan bebas kewajiban tes PCR dan tes antigen untuk perjalanan domestik, menurut Menko Marinves, juga tak membuat situasi pandemi memburuk. Secara umum, seluruh daerah di Indonesia menunjukkan penurunan angka penularan (reproductive rate) Covid-19, kecuali Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kalimantan Utara.

Namun, yang digarisbawahi oleh Menko Luhut ialah tingginya angka kematian. Dalam dua pekan terakhir, fatality case secara nasional masih berkisar antara 250–300 pasien. Kematian tertinggi di Jawa Tengah. Unsur lansia, penyakit komorbid, dan kecukupan vaksin, kembali menjadi titik rawan. Korban meninggal umumnya adalah kelompok lansia pembawa komorbid yang mengalami tingkat keparahan tinggi ketika terserang Covid-19, karena mereka belum (atau tidak) menjalani vaksinasi primer yang lengkap, apalagi booster.

‘’Jadi, sekali lagi saya ingatkan, teman-teman soal vaksinasi ini. Lakukan vaksinasi agar terlindungi, termasuk dengan vaksin booster,’’ kata Luhut.

Ia pun mengimbau agar daerah-daerah terus mengerek angka cakupan vaksinasi agar tingkat perlindungan warganya lebih tinggi. ‘’Sebentar lagi masuk ke Ramadan, lalu ada ldulfitri. Jadi, lebih baik lakukan vaksinasi sekarang agar kita bisa lebih bebas melakukan mobilitas,’’ katanya.

Dalam catatan Kementerian Kesehatan, hingga 11 Maret, tercatat 365 juta vaksin telah disuntikkan, dengan rincian 192 juta dosis pertama (92,68 persen dari target 208,5 juta jiwa) dan 150 juta dosis kedua (72,16 persen), dan 14 juta (6,73 persen) vaksinasi booster. Kemenkes terus mengejar target mencapai vaksinasi primer lengkap (dua dosis) untuk 70 persen populasi penduduk Indonesia pada April 2022. Menyongsong Hari Raya Idulfitri.

Waspadai Varian Baru BA.2

Pandemi global sudah melandai. Selama enam pekan berturut-turut kasus harian turun signifikan, dari 23 juta kasus per minggu menjadi 10 juta kasus per minggu. Angka kematian menyusut dari 78 ribu kasus menjadi 55 ribu kasus per minggu di seluruh dunia. Lonjakan kasus hanya terjadi di area Pasifik Barat, terutama Korea Selatan dan Vietnam.

Secara global, varian Omicron ialah varian yang dominan saat ini. Dari 428 ribu genome squencing dalam 30 hari terakhir, terbukti bahwa spesimen pembawa Omicron porsinya 99,7 persen. Varian Delta tersisa 0,1 persen, dan selebihnya varian lainnya.

Namun varian Omicron sendiri kini terbagi menjadi empat subvarian, yakni versi asli yang disebut sebagai BA.1.1, dan tiga keturunannya yakni BA.1, BA.2, dan BA.3. Menurut perunutan genomnya, di antara empat subvarian, versi asli yang lahir di Afrika Selatan, yakni BA.1.1, paling luas sebarannya, dengan kontribusi 41 persen dari seluruh kasus Omicron. Yang kedua BA.2 dengan kontribusi 34.2 persen, lalu BA.1 menyumbang 24,7 persen, dan BA.3 kurang dari 1 persen.

Pandemi belum selesai. Kini BA.2 menjadi perhatian. Subvarian ini dianggap berperan besar untuk “meledakkan” Korea Selatan dan Vietnam, hingga mencatat angka kasus positif harian yang cukup ekstrem, yakni masing-masing 309 ribu kasus (13 Maret) dan 450 ribu kasus (12 Maret). Subvarian BA.2 ini pula yang dianggap membelokkan arah pandemi yang melandai di Inggris dan Belanda, menjadi kembali menanjak sejak akhir Februari 2022.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga terus mewanti-wanti kemungkinan adanya lonjakan baru itu. Sosok Subvarian BA.2, menurut Menkes, telah termonitor muncul di Indonesia bersama subvarian yang lain. Bahwa, subvarian ini ikut memompa lonjakan di Indonesia, itu mungkin saja. Namun, secara umum, varian Omicron tidak menimbulkan risiko kematian. ‘’Dibanding Delta, risiko kematian Omicron itu 1 banding 4,’’ katanya.

Hal tersebut terkonfirmasi dari kasus kematian di Korea Selatan yang relatif rendah dibandingkan angka kasus positifnya yang mencapai ratusan ribu. Menkes Budi Gunadi justru merujuk kondisi Hongkong, yang kasusnya mulai melandai sejak pekan kedua Maret 2022 ini, namun angka kasus kematian memuncak dan mencapai 284 orang pada 13 Maret lalu.

Menurut Menkes, situasi di Hongkong mirip dengan Indonesia. Angka kematian itu lebih banyak disumbang oleh lansia berkomorbid yang tidak tervaksinasi sama sekali, atau divaksinasi tapi tak lengkap dosisnya, dan tidak menjalani booster. Situasi diperburuk dengan warganya yang terlalu dini melepas masker.

  • Bagikan