Uang Kripto : Bertentangan Secara Syariah, Tetapi Justru Digemari Banyak Orang

  • Bagikan

 

Oleh Pengamat Ekonomi Sumut, Benjamin Gunawan, S.E

KlikSajasumut, Medan_Kita tidak bisa lepas dari massifnya pemberitaan mengenai uang kripto. Ada banyak cerita terciptanya orang kaya baru dengan berinvestasi uang kripto. Bahkan pengusaha besar, tokoh ternama, orang super kaya, artis, presiden, pelajar, mahasiswa hingga semua lapisan masyarakat baik muda ataupun tua, dengan latar belakangan semua agama atau keyakinan. Kehadiran uang kripto seakan menjadi bahagian dari gaya hidup investasi masyarakat kekinian.

Meskipun tidak sedikit pula yang menilai bahwa uang kripto hanya salah satu permainan, dan bukan investasi. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh investor kondang warren buffet. Tetapi tren harga uang kripto yang meroket tinggi sebelumnya, memang sangat menggiurkan bagi banyak orang untuk ikut berkecimpung didalamnya.

Uang kripto menjadi sangat menarik dan dipandang sebagai sesuatu yang menyenangkan. Yang pada akhirnya menggiring banyak masyarakat merasa harus ikut andil agar tidak tertinggal dengan sesuatu yang lagi trending dan banyak di unggah di media sosial. Terlebih ada banyak afiliator uang kripto yang memamerkan kekayaannya, diikuti oleh banyak pengikut (follower), yang menciptakan sebuah mimpi dimana semua orang bisa menggapai kesuksesan yang telah ditorehkan.

Atau muncul fenomena FOMO (fear of missing out), dan disinilah akhirnya uang kripto menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam dunia investasi masyarakat saat ini. Dibanyak Negara regulasi untuk mengatur/membatasi uang kripto ini terus digalakkan, terlepas ada Negara yang juga melegalkan uang kripto. Nah di Indonesia sendiri, baik MUI maupun ormas islam lainnya seperti NU dan Muhammadiyah telah mengeluarkan fatwa haram uang kripto.

MUI sendiri jelas menyatakan bahwa uang kripto haram sebagai alat tukar maupun investasi, karena mengandung gharar dan dharar. Dalam pemahaman saya, uang kripto pada dasarnya tidak jelas diterbitkan oleh otoritas mana, tidak adanya transparansi (walaupun sebagian uang kripto mengklaim memiliki tranparansi), serta tidak memiliki underlying asset.

Karena tidak diterbitkan oleh otoritas keuangan yang jelas, dan tidak memiliki underlying asset. Maka jika kita membeli kripto kita pada dasarnya tidak mengetahui barang yang kita beli itu apa. Kita hanya mengetahui merek dari uang kripto tersebut. Jadi fisik bendanya tidak ada. Lain halnya kalau kita membeli baju merek tertentu. Jelas kita tahu bendanya apa, dan tahu mereknya apa.

Sehingga pada dasarnya saat kita membeli kripto, seakan akan kita membeli sesuatu yang pada dasarnya tidak ada atau tidak bernilai. Terlebih uang kripto ini juga tidak transparan. Yang pada akhirnya banyak pihak yang justru menarik kesimpulan bahwa uang kripto ini adalah bentuk investasi bodong, memakan banyak korban, dan secara sengaja dibuat untuk merugikan investornya.

Saya menilai karena uang kripto bendanya semu, tidak memiliki underlying asset, rentan disalah gunakan oknum tertentu sebagai investasi bodong, berpotensi secara sengaja merugikan atau mencuri uang investor, dan bisa menzhalimi mereka yang hanya ikut ikutan membeli uang kripto. Maka memang fatwa haram oleh MUI itu sudah tepat.

Penulis: Benjamin Gunawan
  • Bagikan